Rabu, 06 Februari 2013

Contact

Owner                      : Yudhi Wahyu
General Manager     : Syafrida Zahra AM.kep

Advertising and entertainment .
Like.. zahdie production On Facebook

Alamat :

Jln. Besar Aek Song-songan dsn vii

[Depan pasar Rabu & Senin]

Kec. Aek Song-songan

Kisaran, Asahan, Sumut 21274

contact person : 0812 6520 4260 (sms/call fast respont)

Kamis, 31 Januari 2013

Bejo (Orang Yang Beruntung)

Bertahun-tahun silam, barangkali kita tidak akan pernah membayangkan betapa mudahnya orang berkomunikasi. Telepon mahal. Telegram merepotkan. Surat-menyurat pun butuh waktu lama. Sekarang? Semua seolah tinggal klik. Duduk manis di depan komputer, terhubung ke internet. Kita pun sudah siap melanglang buana, meski hanya melalui dunia maya. Sungguh mengesankan. Dulu, barang dan benda teknologi yang sepertinya hanya khayalan, kini dengan mudah kita dapatkan.

Jika ditilik jauh ke belakang, kita akan menemukan, betapa banyak orang-orang berjasa besar yang memungkinkan semuanya terjadi. Dan, satu yang harus kita garis bawahi. Mereka semua menciptakan berbagai inovasi tidak dalam satu dua hari. Berbulan, bahkan bertahun-tahun. Tak jarang, hinaan dan celaan sering kali mereka terima. Ada yang meragukan, ada yang menyangsikan, ada yang bahkan menganggap mereka gila hingga harus diasingkan. Tapi, besarnya impian masing-masing, mereka bayar dengan perjuangan yang mati-matian.
 
Kita tentu masih ingat kisah klasik Thomas Alva Edison yang menemukan bohlam lampu setelah ribuan kali gagal. Jika hidup pada era tersebut, barang kali kita juga akan mengira betapa gilanya Edison. Sudah gagal lebih dari 9 ribu kali untuk mengikuti "keyakinannya" bahwa ia bisa menciptakan inovasi dunia, namun tetap saja mencoba dan mencoba lagi.
 
Bahkan, jika ia hidup dan melakukannya pada zaman sekarang, barangkali orang akan segera mengindentifikasikan Edison sebagai orang stres atau kurang kerjaan. Tapi, apa yang terjadi dengan Edison? Ia "membayar" semua keyakinannya itu dengan terus dan terus mencoba lagi. Hasilnya-konon-di percobaan ke 10 ribu, ia berhasil mewujudkan impiannya. Hingga, ia pun terkenal dengan ucapannya, bahwa dirinya tak pernah gagal, hanya saja ia menemukan 9999 cara yang belum berhasil. Dan, setelah melewati berbagai bentuk perjuangan itu, dia pun menjadi inovator dunia yang sangat sukses dan kaya.
 
Pertanyaannya kemudian, apakah di penemuan ke-10 ribu itu sebenarnya Edison "beruntung" mendapat formula yang pas sehingga berhasil, atau ia memang telah pada "puncak" di mana ia pasti akan mendapat formula itu setelah berkali-kali gagal namun terus maju lagi? Sebagian besar orang pasti akan berpikir dan setuju, bahwa faktor yang kedua itulah yang membuatnya berhasil. Ia bukan beruntung, tapi memang karena telah bekerja keras sehingga berhasil. Namun, jika pertanyaannya kita lontarkan tanpa tahu bagaimana ia harus mencoba dan sampai gagal 9 ribu kali lebih, barangkali orang akan menjawab: ia beruntung!
 
Sama halnya yang sering kita jumpai pada ungkapan banyak orang tentang keberhasilan orang lain saat ini. "Ah.. dia beruntung banget...." Atau "Ah, dia bisa begitu karena beruntung..." Saya jadi teringat sebuah ungkapan dalam bahasa Jawa: "Wong bodho kalah karo wong pinter, wong pinter kalah karo wong bejo" atau dalam arti harfiahnya "Orang bodoh kalah dengan orang pandai, tapi orang pandai kalah dengan orang yang beruntung." Jika dipahami dalam arti yang sempit, seolah-olah di sini orang yang bejo atau beruntung adalah "sekadar" mendapat berkah, sehingga ia bisa memperoleh apa yang didambakan dengan mudah. Tapi, apakah memang itu yang terjadi?
 
Bagi saya sendiri, bejo atau beruntung itu adalah buah perjuangan. Tak ada yang datang hanya secara kebetulan, tanpa ada yang mendasari. Karena itu, untuk jadi beruntung, sebenarnya pasti ada rentetan peristiwa di belakangnya. Atau, agar kita beruntung, ada banyak "cara" dan "jalan" yang pasti telah kita lakukan sehingga kita sampai pada apa yang disebut orang sebagai beruntung.
 
Ada dua buah buku yang menyebut hal yang senada. Yang paling terkenal adalah karya Profesor Richard Wiseman yang menulis buku The Luck Factor. Hal senada juga ditulis oleh Max Gunther. Keduanya memang menyebut bahwa keberuntungan adalah hal atau kejadian menyenangkan yang mampu mengubah hidup jadi lebih baik. Dan, melalui berbagai penelitian yang dilakukan, ternyata antara orang yang beruntung dan tidak, ternyata memiliki pola hidup dan sikap yang berbeda. Disebutkan bahwa orang yang beruntung biasanya lebih ramah dengan orang lain, lebih rajin, lebih percaya diri, selalu memiliki pikiran positif, sabar, tak takut risiko, hingga suka bekerja keras. Melalui "kombinasi" sifat dan sikap itulah, orang jadi cenderung gampang bejo atau beruntung.
 
Maka, jika dikembalikan pada kisah Thomas Alva Edison, sebenarnya bisa dikatakan bahwa ia memang orang yang bejo. Namun, ia mendapatkan semuanya setelah melalui sifat dan sikap dengan terus mau bekerja keras untuk mewujudkan impiannya. Karena itu, jika ingin meningkatkan keberuntungan kita-lebih cepat sukses, lebih cepat kaya, lebih cepat menggapai impian-tingkatkan sifat dan sikap kaya mental dalam keseharian. Mari, jemput bersama keberuntungan kita!!
 
Salam sukses, luar biasa!
zahdieproduction.blogspot.com

Minggu, 20 Januari 2013

Memajukan Usaha Dengan Tetap Menjaga Pelanggan Setia



Pelanggan setia bukan sekadar pelanggan yang datang berkali-kali. Tapi, pelanggan setia juga pemasar produk yang loyal untuk memajukan usaha kita. Bagaimana menjaganya?

Hal yang paling menyenangkan dari menjalankan usaha adalah ketika kita berhasil mendulang keberhasilan dan memperoleh pelanggan setia, yang bahkan bisa menjadi “marketing” alias ikut mempromosikan produk kita kepada siapa pun.

Proses untuk mendapat pelanggan yang masuk dalam kriteria fans ini memang tak mudah. Pelayanan yang serba memuaskan, kedekatan emosional, hingga kualitas produk yang tentunya sangat baik harus mampu disajikan dengan maksimal. Tapi, tak jarang, orang yang sudah masuk kriteria sebagai fans, tiba-tiba saja menghilang. Bisa jadi ia kecewa dan kemudian bercerita kepada para relasinya. Jika hal ini tidak segera diantisipasi, bisa jadi nama baik usaha kita pelan-pelan akan tergerus dan hilang ditelan oleh cerita kurang puas dari konsumen yang kecewa.

Lantas, apa yang harus kita lakukan agar pelanggan setia tidak kecewa? Berikut beberapa hal:

• Jangan banyak penggantian personel atau pekerja
Sudah jadi rahasia umum bahwa ada banyak konsumen yang lebih setia pada orang (pekerja) kita dibanding usaha (brand) kita sendiri. Apalagi, jika kita belum mempunyai sistem kerja yang punya standar yang sama. Misalnya di salon kecantikan kelas premium. Solusinya, jangan terlalu sering berganti pekerja. Atau, ciptakan sistem yang benar-benar terstandarisasi dengan baik sehingga layanan satu orang dengan lainnya saat meladeni konsumen benar-benar seragam.

• Jaga perlakuan pada pelanggan lama dan baru
Kadang, untuk mendapatkan pelanggan dan baru dan memperluas pasar, kita menggunakan trik diskon dan nilai tambah sebagai bentuk promosi. Dan memang, ini biasanya akan “menggoda” pelanggan baru untuk datang. Tapi ingat: kita sudah punya pelanggan setia. Jangan sampai, apa yang kita tawarkan kepada pelanggan baru justru lebih menggoda daripada yang diberikan kepada pelanggan setia kita. Justu, pelanggan setia harus diperlakukan jauh lebih baik!

• Jangan terlalu fokus pada soal harga
Fokus pada harga sah-sah saja. Namun banyak pesaing melakukan hal yang sama. Jadi ada baiknya kita juga memperhatikan nilai tambah dari harga yang telah kita tentukan. Tak jarang—bahkan banyak—orang yang membeli sesuatu bukan berdasar harga, tapi karena punya nilai tambah yang tidak dimiliki pesaing. Di sinilah peran kita sebenarnya, yakni dengan tetap fokus memberikan pelayanan terbaik, terutama kepada pelanggan setia.

• Jangan terlalu memaksa memanfaatkan momentum
Biasanya, karena merasa sudah dekat, sudah terlalu personal saat berhubungan dengan pelanggan, kita seolah sudah merasa tak memiliki jarak. Saat itu, tanpa disadari, kita sering kali menawarkan hal-hal yang kadang kurang dibutuhkan oleh pelanggan. Di depan kita, mungkin si pelanggan tidak mengungkapkan kekesalannya secara langsung. Tapi bisa jadi di belakang, ia merasa gerah karena terus dipaksa membeli produk yang sebenarnya kurang dibutuhkannya. Untuk mengantisipasinya, jangan terlalu memaksa. Cobalah pahami kebutuhannya, dan jangan berlebihan dalam memanfaatkan momentum kedekatan ini.

• Tetap fokus pada produk utama
Setiap brand sering kali diidentikkan dengan produk tertentu. Begitu juga dengan pelanggan setia terhadap produk kita. Misalnya kita bergerak di bidang jasa periklanan yang banyak melayani jasa maintenance pada social media. Meski produk jasa kita banyak, namun jika di pasaran sudah dikenal bahwa usaha kita sangat hebat di bidang maintenance pada social media, jangan terlalu serakah mengambil jatah yang di luar bidang tersebut. Tak salah memang, tapi jangan sampai fokus kita di bidang yang sudah membuat usaha terkenal jadi hilang arah. Tetap fokus pada layanan utama, karena di sana kita mendapat pelanggan setia.

Sebenarnya, masih banyak cara-cara lain yang bisa kita lakukan agar konsumen tetap setia. Yang pasti, jadikan kepuasan selalu menjadi yang terdepan untuk usaha kita, baik kepuasan untuk pelanggan, kepuasan untuk karyawan, hingga kepuasan masyarakat luas yang belum tentu pernah memakai produk kita. Sebab, saat kepuasan ini sudah diperbincangkan dan jadi nilai tambah usaha kita, niscaya pelanggan setia akan selalu ada.